Minggu, 24 Februari 2013

Tebusan


TEBUSAN


Harga yang dibayarkan untuk membeli kembali atau membebaskan dari suatu kewajiban atau keadaan yang tidak diinginkan. Gagasan dasar ”tebusan” adalah harga yang menutup (seperti pembayaran untuk menutup kerugian atau untuk memenuhi keadilan), sedangkan ”penebusan” menandaskan pembebasan sebagai hasil tebusan yang dibayarkan. Harga tebusan yang paling penting ialah darah Yesus Kristus yang dicurahkan, yang memungkinkan keturunan Adam dibebaskan dari dosa dan kematian.

Berbagai kata Ibrani dan Yunani yang diterjemahkan menjadi ”tebusan” dan ”menebus” memiliki persamaan intrinsik, yaitu gagasan bahwa suatu harga, atau sesuatu yang bernilai, diberikan untuk menebus atau membebaskan. Gagasan tentang pertukaran, maupun kesepadanan, kesamaan nilai, atau penggantian, umumnya terkandung dalam semua kata tersebut. Maksudnya, satu hal diberikan sebagai pengganti hal lain, sehingga memenuhi tuntutan keadilan dan menghasilkan keseimbangan.—Lihat RUKUN, MERUKUNKAN.

Minggu, 17 Februari 2013

RAHASIA DIBALIK PENGUNDURAN DIRI PAUS BENEDIKTUS KE-IX




Seorang peneliti Saudi mengungkapkan dalam perbandingan agama, kristenisasi dan urusan Vatikan, Direktur Essam.
Alasan sebenarnya Paus Vatikan yang mengumumkan niatnya untuk mengundurkan diri, yang mengguncang komunitas Katolik di seluruh dunia, sebagai Paus pertama kali yg mengundurkan diri sejak 6 abad yang lalu.
Melalui akun nya di twitter mengungkapkan apa yg tersingkap dari faktor faktor sebenarnya, pengunduran diri Paus Benediktus yg ke 16 ini disiarkan pertama kalinya. Dia mengatakan, penyebab utama penguduran diri Paus adalah setelah terjadinya kekacauan dari kalangan gereja Vatikan, terhadap Injil Lama yg di dalamnya terdapat Nama Rasul Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassallam, yang sampai saat ini masih berada di Vatikan.

Senin, 21 Januari 2013

Menyelesaikan sengketa Universal untuk selamanya.








”[Yehuwa] ada di sebelah kananmu; Ia meremukkan raja-raja pada hari murkaNya.”—MAZMUR 110:5.

KEDAULATAN universal dari Pencipta langit dan bumi merupakan sengketa yang terpenting di hadapan manusia maupun malaikat. Tidak lama lagi, sengketa ini akan diselesaikan untuk selamanya, tetapi selama berabad-abad musuh-musuh Yehuwa telah menantang kedaulatan-Nya. Memang, penghancuran pada tahun 70 M. atas kota Yerusalem beserta baitnya yang dibaktikan kepada Yehuwa, bisa jadi telah menimbulkan keraguan atas sifat universal dari kedaulatan sang Pencipta. Meskipun demikian, ada alasan kuat mengapa Yehuwa ketika itu memilih untuk tidak menjadi Allah pejuang demi kepentingan Israel jasmani.

2
Apa alasannya? Pada waktu itu Allah Yehuwa telah mengalihkan perkenan-Nya kepada suatu bangsa baru, Israel rohani, yaitu sidang dari Yesus Kristus yang disebut oleh rasul Paulus sebagai ”Israel milik Allah”. (Galatia 6:16) Tetapi, sebegitu jauh, sepanjang apa yang disebut zaman Kristen, Yehuwa belum pernah berperang bagi Israel rohani sebagai Allah pejuang dengan cara yang sama sebagaimana Ia berperang bagi Israel jasmani di bawah perjanjian Hukum Musa. Ia bahkan membiarkan tentara Roma, atas hasutan orang Yahudi, membunuh Yesus pada tiang siksaan di Golgota. Itu terjadi 37 tahun sebelum penghancuran kedua dari Yerusalem oleh orang Roma, pada tahun 70 M.

Minggu, 20 Januari 2013

Mengapa Yesus tidak terjun dalam politik




 


BAYANGKAN suatu peristiwa yang terjadi pada 32 M. Hari sudah sore. Yesus, sang Mesias yang dinubuatkan, telah dikenal luas karena dapat menyembuhkan orang sakit dan bahkan membangkitkan orang mati. Hari ini, ia telah memukau ribuan orang dengan melakukan berbagai tanda penuh kuasa dan dengan menyampaikan ajaran-ajaran dari Allah. Sekarang, ia membagi orang-orang yang lapar itu menjadi kelompok-kelompok yang lebih kecil. Ia berdoa kepada Yehuwa dan secara mukjizat memberi makan mereka semua. Kemudian, agar tidak ada yang terbuang, ia mengumpulkan sisa makanan. Bagaimana reaksi orang-orang itu?—Yohanes 6:1-13.

Nah, setelah melihat mukjizat Yesus dan keterampilannya dalam memimpin dan mengatur orang banyak serta memenuhi kebutuhan mereka, orang-orang menyimpulkan bahwa Yesus adalah kandidat raja yang sempurna. (Yohanes 6:14) Tanggapan mereka tidaklah mengejutkan. Ingatlah bahwa mereka mendambakan penguasa yang baik dan efektif; tanah air mereka yang tercinta berada di bawah pemerintah asing yang menindas. Jadi, mereka langsung memaksa Yesus untuk ikut dalam kancah politik. Dengan mengingat latar belakang itu, perhatikan tanggapan Yesus.

apakah kita akan selalu membutuhkan bala tentara ?




 


BALA TENTARA telah menelan banyak sumber daya manusia dan menghancurkan cukup banyak kebahagiaan manusia. Oleh karena itu, sebagian orang bertanya-tanya, ’Apakah umat manusia akan dapat mencapai suatu taraf keamanan dunia tertentu sehingga tidak diperlukan lagi bala tentara?’ Terlebih lagi sekarang dengan tersedianya senjata-senjata pembinasa massal yang dapat memusnahkan segala jenis kehidupan, pertanyaan tadi semakin mendesak. Seberapa realistiskah harapan akan suatu dunia tanpa bala tentara?

Sejumlah preseden membuktikan bahwa saat hubungan internasional yang baik menghasilkan keyakinan, itu dapat menghasilkan perlucutan senjata. Persahabatan antara Kanada dan Amerika Serikat, misalnya, memungkinkan perbatasan kedua negara itu sepanjang 5.000 kilometer tidak dijaga oleh angkatan bersenjata selama lebih dari satu setengah abad. Norwegia dan Swedia telah mencapai kesepakatan serupa, demikian pula dengan banyak negara lainnya. Dapatkah persetujuan antara semua bangsa menghasilkan suatu dunia tanpa bala tentara? Dengan adanya kengerian Perang Dunia I, gagasan ini semakin populer dibandingkan dengan sebelumnya.

Tahu sebelumnya;Tetapkan sebelumnya




 


Tahu sebelumnya, atau tahu di muka, berarti tahu tentang sesuatu sebelum hal itu terjadi atau ada; juga disebut pra-pengetahuan. Dalam Alkitab kesanggupan ini terutama dikaitkan dengan Allah Yehuwa, sang Pencipta, serta maksud-tujuan-Nya, meskipun tidak secara eksklusif. Tetapkan sebelumnya, atau tetapkan di muka, berarti menetapkan, menentukan atau memutuskan sesuatu di muka; atau sifat atau keadaan ditetapkan sebelumnya.

Kata-Kata
Bahasa Aslinya. Kata-kata yang umumnya diterjemahkan sebagai ”tahu sebelumnya”, ”diketahui sebelumnya”, dan ”tetapkan sebelumnya” terdapat dalam Kitab-Kitab Yunani Kristen, tetapi gagasan dasar yang sama dinyatakan dalam Kitab-Kitab Ibrani.

Kata Yunani pro

′gno·sis (dari kata pro, sebelum, dan kata gno′sis, pengetahuan) diterjemahkan menjadi ”apa yang telah diketahui sebelumnya”. (Kis 2:23; 1Ptr 1:2) Kata kerja yang terkait, pro·gi·no′sko, dalam dua kasus digunakan untuk manusia: dalam pernyataan Paulus bahwa orang Yahudi tertentu ”sebelumnya mengenal” dia (sudah tahu tentang dia sebelum itu), dan dalam kata-kata Petrus kepada orang-orang yang ia surati untuk kedua kali, ”Kamu telah mengetahui ini sebelumnya.” (Kis 26:4, 5; 2Ptr 3:17) Dalam kasus terakhir, jelas bahwa apa yang mereka ketahui sebelumnya tidaklah tanpa batas; maksudnya, tidak berarti orang-orang Kristen itu mengetahui semua perincian tentang waktu, tempat, dan keadaan dari peristiwa serta keadaan yang masih akan terjadi yang Petrus bahas. Tetapi mereka memang memiliki gambaran umum tentang apa yang dapat diantisipasi, yang mereka dapatkan karena Allah mengilhami Petrus dan para penulis Alkitab lainnya.

PERANG




Permusuhan dibarengi tindakan yang dirancang untuk menaklukkan atau membinasakan pihak-pihak yang dianggap sebagai musuh. Ada sejumlah kata Ibrani yang dikaitkan dengan berperang; salah satunya, dari kata kerja dasar qa·rav


′, pada dasarnya berarti ”datang mendekat”, yaitu untuk bertempur. Kata benda Yunani po′le·mos berarti ”perang”; dan kata kerja stra·teu′o berasal dari kata dasar yang memaksudkan bala tentara yang berkemah.

Alkitab mengatakan bahwa Nimrod ”pergi ke Asiria”, yang tampaknya merupakan tindakan agresi, memasuki wilayah Assyur, putra Sem. Di sana Nimrod mendirikan kota-kota. (Kej 10:11) Pada zaman Abraham, seorang raja Elam bernama Khedorlaomer menjajah sejumlah kota (tampaknya semuanya di sekitar ujung selatan L. Mati) selama 12 tahun, memaksa penduduknya melayani dia. Setelah mereka memberontak, Khedorlaomer dan sekutunya berperang melawan mereka, secara telak mengalahkan pasukan Sodom dan Gomora, menjarah harta mereka, dan menawan kemenakan Abraham, Lot, beserta rumah tangganya. Setelah itu Abraham mengerahkan 318 hamba yang terlatih dan, bersama tiga sekutunya, mengejar Khedorlaomer dan mendapatkan kembali para tawanan dan jarahan. Akan tetapi, Abraham tidak mengambil rampasan apa pun. Kisah ini merupakan laporan pertama tentang peperangan yang dilancarkan oleh seorang hamba Allah. Yehuwa berkenan atas perang yang Abraham lakukan untuk membebaskan sesama hamba Yehuwa, karena setelah Abraham kembali, ia diberkati oleh Melkhizedek, imam Allah Yang Mahatinggi.—Kej 14:1-24.