Minggu, 20 Januari 2013

Mengapa Yesus tidak terjun dalam politik




 


BAYANGKAN suatu peristiwa yang terjadi pada 32 M. Hari sudah sore. Yesus, sang Mesias yang dinubuatkan, telah dikenal luas karena dapat menyembuhkan orang sakit dan bahkan membangkitkan orang mati. Hari ini, ia telah memukau ribuan orang dengan melakukan berbagai tanda penuh kuasa dan dengan menyampaikan ajaran-ajaran dari Allah. Sekarang, ia membagi orang-orang yang lapar itu menjadi kelompok-kelompok yang lebih kecil. Ia berdoa kepada Yehuwa dan secara mukjizat memberi makan mereka semua. Kemudian, agar tidak ada yang terbuang, ia mengumpulkan sisa makanan. Bagaimana reaksi orang-orang itu?—Yohanes 6:1-13.

Nah, setelah melihat mukjizat Yesus dan keterampilannya dalam memimpin dan mengatur orang banyak serta memenuhi kebutuhan mereka, orang-orang menyimpulkan bahwa Yesus adalah kandidat raja yang sempurna. (Yohanes 6:14) Tanggapan mereka tidaklah mengejutkan. Ingatlah bahwa mereka mendambakan penguasa yang baik dan efektif; tanah air mereka yang tercinta berada di bawah pemerintah asing yang menindas. Jadi, mereka langsung memaksa Yesus untuk ikut dalam kancah politik. Dengan mengingat latar belakang itu, perhatikan tanggapan Yesus.

”Ketika Yesus tahu bahwa mereka akan segera datang dan hendak membawanya dengan paksa untuk menjadikannya raja, ia sekali lagi mengundurkan diri ke gunung sendirian,” kata Yohanes 6:15. Pendirian Yesus sangatlah tegas. Ia jelas-jelas menolak untuk terlibat dalam politik tanah airnya. Pendiriannya tidak pernah berubah. Ia mengatakan bahwa para pengikutnya harus berpendirian serupa. (Yohanes 17:16) Mengapa dia mengambil pendirian ini?

Mengapa
Yesus Memilih Netral?

Kenetralan Yesus dalam soal politik dunia ini berdasar kuat pada prinsip-prinsip Alkitab. Perhatikan dua prinsip berikut.

”Manusia
menguasai manusia sehingga ia celaka.” (Pengkhotbah 8:9) Demikianlah Alkitab menyimpulkan sejarah pemerintahan manusia. Ingatlah, Yesus telah ada sebagai makhluk roh di surga lama sebelum ia datang ke bumi sebagai manusia. (Yohanes 17:5) Jadi, ia mengetahui bahwa manusia, seberapa baik pun niatnya, tidak sanggup memenuhi kebutuhan miliaran orang; manusia juga tidak diciptakan oleh Allah untuk melakukan itu. (Yeremia 10:23) Yesus tahu bahwa solusi untuk problem umat manusia terletak pada hal lain—bukan pada pemerintah manusia.

”Seluruh
dunia berada dalam kuasa si fasik.” (1 Yohanes 5:19) Apakah Anda merasa bahwa pernyataan itu mengejutkan? Banyak yang merasa demikian. Mereka terpikir tentang orang-orang tulus yang ada di pemerintahan karena ingin membuat dunia ini lebih baik dan lebih aman. Namun, tidak soal seberapa keras upaya mereka, para penguasa yang paling tulus sekalipun tidak sanggup melawan pengaruh dari pribadi yang Yesus sebut ”penguasa dunia ini”. (Yohanes 12:31; 14:30) Itulah sebabnya, Yesus mengatakan kepada seorang politisi, ”Kerajaanku bukan bagian dari dunia ini.” (Yohanes 18:36) Yesus adalah calon Raja dari pemerintah surgawi Allah. Seandainya Yesus ikut dalam kancah politik, ia tidak loyal kepada pemerintahan Bapaknya.

Kalau begitu, apakah Yesus mengajarkan bahwa para pengikutnya tidak wajib menaati pemerintah manusia? Tidak, tetapi ia mengajar mereka caranya menyeimbangkan antara tanggung jawab kepada Allah dan kepada pemerintah sekuler.

Yesus
Merespek Wewenang Pemerintah

Sewaktu Yesus sedang mengajar di bait, para penentang berupaya menyudutkan dia dalam situasi yang menjebak dengan menanyakan apakah rakyat harus membayar pajak. Jika Yesus menjawab tidak, ia akan dianggap membangkang dan bisa jadi memicu pemberontakan di kalangan rakyat tertindas yang sangat ingin lepas dari kuk orang Romawi. Tetapi, jika Yesus menjawab ya, banyak orang akan merasa bahwa ia menyetujui ketidakadilan yang mereka alami. Jawaban Yesus sangat seimbang. Ia mengatakan, ”Bayarlah kembali perkara-perkara Kaisar kepada Kaisar, tetapi perkara-perkara Allah kepada Allah.” (Lukas 20:21-25) Jadi, para pengikutnya berkewajiban kepada Allah dan kepada Kaisar, yakni pemerintah sekuler.

Pemerintah menjaga ketertiban hingga taraf tertentu. Mereka berhak menuntut warganya untuk berlaku jujur, membayar pajak, dan menjunjung hukum. Teladan apa yang Yesus berikan dalam membayar ”perkara-perkara Kaisar kepada Kaisar”? Yesus dibesarkan oleh orang tua yang mematuhi hukum meskipun adakalanya hal itu tidak menyenangkan. Misalnya, Yusuf dan istrinya yang sedang hamil, Maria, mengadakan perjalanan sejauh 150 kilometer ke Betlehem karena diharuskan pemerintah Romawi yang akan mengadakan sensus. (Lukas 2:1-5) Seperti mereka, Yesus patuh kepada hukum, bahkan membayar pajak yang sebetulnya tidak perlu dia bayar. (Matius 17:24-27) Ia juga berhati-hati untuk tidak melangkahi batas-batas wewenangnya dalam masalah-masalah sekuler. (Lukas 12:13, 14) Kita dapat mengatakan bahwa Yesus merespek sistem pemerintah, meskipun ia menolak untuk turut menjalankannya. Namun, apa yang dimaksud Yesus dengan membayar ”perkara-perkara Allah kepada Allah”?

Bagaimana
Yesus Memberikan ”Perkara-Perkara Allah kepada Allah”

Yesus pernah ditanya tentang yang mana yang terbesar dari semua hukum yang diberikan Allah kepada manusia. Kristus menjawab, ”’Engkau harus mengasihi Yehuwa, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap pikiranmu.’ Inilah perintah yang terbesar dan yang pertama. Perintah yang kedua, yang seperti itu, adalah ini, ’Engkau harus mengasihi sesamamu seperti dirimu sendiri.’” (Matius 22:37-39) Yesus mengajarkan bahwa sehubungan dengan membayar ”perkara-perkara Allah kepada Allah”, hal utama yang harus kita berikan kepada-Nya adalah kasih—yang mencakup kesetiaan yang utuh dan sepenuh hati.

Dapatkah kasih seperti itu dibagi-bagi? Dapatkah keloyalan kita dibagi dua, sebagian kepada Allah Yehuwa serta pemerintah surgawi-Nya dan sebagian lagi kepada pemerintah duniawi? Yesus sendiri menyatakan prinsip ini, ”Tidak seorang pun dapat bekerja bagaikan budak untuk dua majikan; sebab ia akan membenci yang satu dan mengasihi yang lain, atau ia akan berpaut pada yang satu dan memandang rendah yang lain.” (Matius 6:24) Yesus sedang berbicara tentang membagi keloyalan antara Allah dan kekayaan, tetapi ia tentu merasa bahwa prinsip serupa berlaku untuk keterlibatan dalam politik. Para pengikutnya di abad pertama juga merasa demikian.

Catatan tertua yang ada memperlihatkan bahwa para pengikut Yesus di zaman dahulu sama sekali tidak ambil bagian secara aktif dalam politik. Karena mereka hanya menyembah Pribadi yang Kristus sembah, mereka menolak untuk mengucapkan sumpah setia kepada Roma dan kaisarnya, ikut dalam dinas militer, dan memangku jabatan di pemerintahan. Akibatnya, mereka pun sering dimusuhi. Musuh-musuh mereka kadang-kadang menuduh bahwa mereka membenci umat manusia. Apakah tuduhan itu benar?

Orang
Kristen Sejati Memedulikan Orang Lain

Ingatlah kata-kata Yesus tentang perintah terbesar kedua dari Allah—”Engkau harus mengasihi sesamamu seperti dirimu sendiri”. Jelaslah, tak seorang pengikut Kristus pun boleh membenci umat manusia. Yesus mengasihi orang-orang, mengerahkan dirinya demi mereka, dan membantu mereka mengatasi bahkan problem sehari-hari.—Markus 5:25-34; Yohanes 2:1-10.

Namun, sebagai apa Yesus terutama dikenal? Meskipun ia melakukan hal-hal menakjubkan seperti menyembuhkan orang sakit, memberi makan ribuan orang, dan membangkitkan orang mati, ia lebih dikenal sebagai Guru; dan sebutan itu memang cocok. (Yohanes 1:38; 13:13) Yesus menjelaskan bahwa alasan utama dia datang ke bumi adalah untuk mengajar orang-orang tentang Kerajaan Allah.—Lukas 4:43.

Itulah sebabnya, para pengikut Kristus yang sejati mengabdikan diri mereka kepada pekerjaan yang sama dengan yang dilakukan sang Majikan sewaktu berada di bumi—mengajar orang-orang kabar baik tentang Kerajaan Allah. Yesus Kristus menugaskan semua orang Kristen yang sejati untuk mengajar orang-orang di seluruh dunia tentang pokok itu. (Matius 24:14; 28:19, 20) Pemerintah surgawi yang tidak fana itu akan memerintah seluruh ciptaan Allah, berdasarkan hukum kasih. Pemerintah itu akan mewujudkan kehendak Allah, bahkan menghapuskan penderitaan dan kematian. (Matius 6:9, 10; Penyingkapan [Wahyu] 21:3, 4) Tidak heran, Alkitab menyebut berita yang Kristus sampaikan sebagai ”kabar baik”!—Lukas 8:1.

Jadi, jika Anda mencari para pengikut Yesus Kristus yang sejati di bumi dewasa ini, bagaimana Anda dapat mengenali mereka? Apakah mereka turut berkecimpung dalam politik dunia ini? Atau, apakah mereka menjalankan misi utama yang sama seperti Yesus—memberitakan dan mengajar tentang Kerajaan Allah?

Inginkah Anda belajar lebih banyak tentang Kerajaan Allah dan bagaimana hal itu memengaruhi kehidupan Anda sekarang? Kami mengundang Anda untuk menghubungi Saksi-Saksi Yehuwa setempat atau mengunjungi situs Web resminya, www.watchtower.org.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar